Oleh: Supriadi Lawani
INI cerita tentang mabuk. Mabuk betulan—mabuk karena kebanyakan minum alkohol.
Tapi ini bukan mabuk di bar mewah dengan lampu redup, bartender profesional, musik keras, harga minuman mahal dan tarian erotis yang membuat orang lupa waktu.
Ini mabuk di perkampungan miskin, di desa-desa pesisir.
Polanya hampir selalu sama. Sekelompok orang—terutama pria—berkumpul di satu tempat yang agak sunyi.
Biasanya di rumah yang dekat pantai, atau dilokasi kebun kelapa dan mente.
Mereka patungan setelah pulang melaut dengan tangkapan seadanya, setelah panen kelapa yang tak seberapa, atau setelah gajian dari bos perkebunan dan pemilik perahu pukat.
Uang patungan itu dibelikan minuman: cap tikus pastinya dan beberapa botol bir jika beruntung.
Kalau tidak, Coca-Cola atau minuman energi untuk campuran cap tikus.
Rokok biasanya dibawa masing-masing—rokok murah dengan bau khas yang langsung menandai kelas sosial.
Semua minuman itu kemudian dioplos dalam ceret besar, diminum bergilir dari satu gelas yang sama.
Gelas pertama, obrolan masih santai. Soal kerja, soal laut, soal cuaca, soal kawan lama. Lingkaran pertemanan masih terasa hangat.
Gelas kedua dan ketiga, pembicaraan mulai bergeser: curhat hidup, utang, anak sekolah, dan hubungan dengan pasangan.
Gelas berikutnya, kata-kata mulai salah ucap. Nada suara meninggi. Ada yang tersinggung, ada yang merasa direndahkan.
Dan kita tahu akhirnya. Keributan pecah. Saling kejar, saling maki, kadang saling pukul. Ribut masuk ke pusat kampung. Ibu-ibu berteriak.
Warga berdatangan. Orang mabuk ditenangkan paksa. Kepala desa turun tangan. Tokoh kampung datang untuk mendamaikan.
Tak lama, suasana kembali normal. Tangisan mereda. Orang-orang tertawa mengingat “kelucuan” peristiwa itu. Cerita mabuk jadi bahan canda esok hari.
Namun ada hal yang tidak ikut pergi dan itu adalah: kemiskinan.
Kemiskinan tetap tinggal. Ia abadi. Ia tak tersentuh oleh proses damai kampung, tak terselesaikan oleh tawa setelah mabuk.
Lebih tragis lagi, kemiskinan ini disertai ketidaktahuan—ketidaktahuan bahwa kondisi hidup mereka bukan semata akibat malas, bodoh, atau tak pandai mengatur hidup, melainkan akibat kesalahan struktural yang panjang dan sistemik.
Orang-orang ini terjebak dalam rutinitas harian yang melelahkan tanpa kejelasan masa depan.
Mabuk menjadi jeda singkat untuk melupakan, bukan solusi untuk keluar.
Kekerasan yang muncul bukan watak bawaan, melainkan letupan dari tekanan hidup yang tak pernah diberi saluran yang adil.
Di kampung miskin, mabuk bukan sekadar soal alkohol. Ia adalah potret keputusasaan yang dinormalisasi.
Ia adalah jeritan sunyi dari hidup yang tak pernah benar-benar diberi pilihan.
Dan selama struktur yang memiskinkan itu tetap dibiarkan, cerita mabuk seperti ini akan terus berulang—dari satu kampung ke kampung lain—dengan gelas yang sama, ceret yang sama, dan masa depan yang tetap kosong. *
Penulis adalah petani pisang





