Dapur Mom's Arsy
Dapur Mom's Arsy
Dapur Mom's Arsy
Bertahun-tahun haknya dipangkas di balik ancaman pemutusan kontrak, para tenaga kesehatan di Kabupaten Banggai kini bernapas lega setelah media membongkar balik layar pemotongan Jasa Pelayanan.
Luwuk Times, Luwuk – Di balik senyum ramah dan jemari cekatan para tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Banggai, tersimpan luka bisu yang mengendap bertahun-tahun.
Saban bulan, usai memeras keringat merawat warga di Puskesmas, ada porsi hak yang terus-menerus tergerus secara tidak masuk akal.
Mereka tahu ada yang salah, tetapi tak seorang pun berani bersuara. Sebab taruhannya adalah periuk nasi dan masa depan karier mereka.
Praktik pemotongan dana Jasa Pelayanan (Jaspel) ini ibarat fenomena gunung es yang tersembunyi rapi di bawah permukaan birokrasi.
Cengkeraman Intimidasi dan Lembar SKP
Keengganan para nakes untuk melawan bukan tanpa alasan. Di balik meja-meja pelayanan, bertiup angin intimidasi yang terstruktur.
“Waktu itu Kadis Dinkes lama dan Kapus mengancam, siapa yang melapor akan dikasih ‘pembinaan’ di dinas,” ungkap salah seorang nakes, kepada Luwuk Times, Minggu (06/09/2026), mengenang masa-masa mencekam ketika keberanian dinilai sebagai ancaman.
Bagi nakes yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), ancaman tersebut bukan gertakan belaka.
Senjata paling ampuh yang digunakan untuk mengunci mulut mereka adalah lembar Penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP).
Cukup dengan vonis nilai kurang atau tanda “jempol ke bawah”, proses perpanjangan kontrak otomatis dijegal.
Pilihan yang tersisa hanya dua, yakni patuh dan merelakan hak dipangkas, atau bersuara lalu tersingkir.
Sunatan Hak di Ujung Jarum Suntik
Rincian pemotongan hak yang dialami para nakes sangat memprihatinkan. Keringat mereka dipotong secara sistematis dari berbagai pintu
Pertama, Dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dipotong sebesar 10 persen.
Kedua, Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), disunat sebesar 10 persen.
Dan ketiga, Dana Persalinan, terpangkas paling drastis hingga menyentuh hampir 50 persen.
Ironisnya, pemotongan yang memotong kesejahteraan bidan dan perawat yang mempertaruhkan nyawa membantu persalinan di lapangan tersebut belakangan justru terindikasi dilegalkan melalui Peraturan Bupati (Perbup).
Upaya perlawanan sejatinya pernah coba dinyalakan pada April lalu. Seorang nakes PPPK memberanikan diri melaporkan pemotongan dana non-kapitasi dan persalinan ini.
Namun, tanpa adanya sorotan kamera pers dan desakan publik, jeritan sunyi itu menguap begitu saja di lorong-lorong birokrasi.
“Terima Kasih Media”
Dinding tebal penindasan itu akhirnya retak tatkala awak media mulai mengendus dan mengangkat polemik Jaspel di Banggai ke permukaan.
Pemberitaan yang masif dan viral di jagat maya mengubah konstelasi yang selama ini membendung keadilan.
Kini, udara terasa sedikit lebih lega di bilik-bilik pelayanan kesehatan Banggai. Rasa takut yang bertahun-tahun mengepung perlahan berganti menjadi secercah harapan.
Mewakili rekan-rekan seprofesinya yang sekian lama terikat pembungkaman, ucapan “Terima kasih media” mengalir tulus.
Bagi mereka, keberanian pers menyuarakan fakta bukan sekadar memberikan angin segar.
Melainkan menjadi titik balik berharga menuju penataan ulang keadilan dan kesejahteraan nakes di tanah Banggai. *










