Suara itu terdengar sangat pelan, nyaris tenggelam oleh ketakutan yang teramat besar. Dari sebuah rekaman percakapan singkat yang kini beredar, publik dipaksa mendengarkan kejujuran yang menyayat hati dari seorang bocah.
DENGAN kalimat-kalimat terbata khas anak-anak, ia mengurai kengerian yang baru saja merenggut paksa keceriaan masa kecilnya.
“Saya lagi main…” kenang bocah itu lirih, menjawab pertanyaan lembut seorang perempuan yang diduga adalah keluarganya.
Hari itu dimulai seperti hari-hari biasa. Ia sedang asyik bermain di sekitar rumah ketika sebuah tangan dewasa tiba-tiba menariknya paksa.
Langkah kecilnya diseret menuju sebuah sudut sunyi. Sebuah area dekat taman yang rimbun oleh tanaman pandan. Di sanalah, di balik helai-helai daun pandan yang tajam, mimpi buruknya dimulai.
Dengan kepolosan yang memilukan, korban menceritakan bagaimana pelaku berbuat keji padanya.
Ketika ia mencoba mempertahankan diri atau sekadar mencari pertolongan, sebuah tangan kasar langsung membekap mulut mungilnya. Pekikannya binasa dalam sunyi.
Trauma itu tidak berhenti di situ. Setelah tindakan keji tersebut selesai, pelaku menanamkan ketakutan yang luar biasa pada benak sang bocah.
“Saya mau dibunuh kalau melawan atau cerita ke orang lain,” kata bocah itu, mengulang kembali ancaman pelaku yang terus membayangi pikirannya.
Dengan tubuh bergetar dan rasa takut yang mencengkeram dada, ia melangkah pulang ke rumah.
Menyimpan rapat-rapat rahasia gelap itu sendirian, hingga tubuh kecilnya tak lagi mampu menyembunyikan luka fisik yang teramat perih. Ia mengalami pendarahan.
Bercak Darah yang Menyingkap Tabir
Tirai misteri ini baru tersingkap pada Sabtu pagi yang kelabu. Kakak korban terkejut bukan main saat mendapati bercak merah pekat di celana sang adik. Tanpa membuang waktu, bocah malang tersebut dilarikan ke RSUD Luwuk.
Hasil pemeriksaan medis bagai petir di siang bolong bagi pihak keluarga. Ditemukan luka robek yang parah pada area vital korban.
Akibat luka fisik dan trauma psikis yang hebat, tubuh mungilnya sempat drop. Ia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat pendarahan yang disertai demam tinggi.
“Korban sementara dirawat di RSUD Luwuk karena mengalami pendarahan dan juga demam. Untuk terduga pelaku telah diperiksa,” ujar IPDA Fendik Atmaja, memberikan konfirmasi resmi mengenai kondisi terkini korban.
Menanti Keadilan Tegak
Kini, rekaman pengakuan polos sang bocah menjadi bukti paling memilukan sekaligus pemantik desakan publik agar keadilan segera ditegakkan. Kasus ini telah berada di bawah penanganan serius Satreskrim Polresta Banggai.
Di balik dinding ruang perawatan RSUD Luwuk, bocah itu kini sedang berjuang untuk sembuh.
Sementara di luar sana, publik dan aparat penegak hukum memikul tanggung jawab besar.
Mereka memastikan suara lirih dari balik rimbun pandan itu mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Bahkan memastikan masa depannya kembali didekap oleh rasa aman. *
Sofyan Labolo









