Jejak Langkah Sang Gadis Kecil, Saat Rindu dan Amarah Melebur di Angka 110

Di Balik Pelarian Remaja Toili dan Penyelamatan Polresta Banggai

Sofyan
A-AA+A++

LUWUK TIMES, Toili – Senin pagi itu, 24 Agustus 2026, sebuah rumah di Kecamatan Toili mendadak sunyi secara mencekam. Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.15 WITA, namun bayangan seorang gadis berusia 15 tahun sudah tak lagi terlihat di ambang pintu.

Ia pergi tanpa pamit, membawa serta rasa sesak akibat teguran yang kerap ia terima dan kerinduan akan kebebasan yang dirasa terenggut.

Kepanikan perlahan menggerogoti hati orang tuanya. Menit berganti jam, hingga mentari Selasa sore bertengger di ufuk barat, ruang tamu rumah itu tetap sepi.

Baca Juga:  Hantam Jembatan Kayutanyo, Ayah dan Anak di Luwuk Timur Kecelakaan Tunggal Akibat Alkohol

Anak perempuan mereka tak kunjung pulang. Rasa takut, bersalah, dan kecemasan luar biasa akhirnya memuncak saat jemari sang orang tua menekan tiga angka darurat, Hotline 110.

Aduan kehilangan itu direspons tanpa tunda oleh SPKT Polresta Banggai. Pamapta II IPDA Nurdiansyah, S.H. bergerak cepat menahkodai pencarian.

Berkoordinasi ketat dengan tim piket Satreskrim, langkah-langkah penyelidikan segera disebar menyisir sudut-sudut Kota Luwuk.

Baca Juga:  Tentang Wacana Provinsi Baru di Banggai Bersaudara, Bupati Amirudin Siapkan Pemekaran 4 Daerah

“Motif anak tersebut kabur dari rumah karena sering dimarahi dan merasa tidak bebas,” ungkap Kasi Humas Polresta Banggai, AKP Saiman.

Hasilnya manis. Tepat pukul 18.00 WITA di hari Selasa, jejak sang gadis akhirnya ditemukan di rumah seorang temannya di Kelurahan Hanga-hanga, Luwuk Selatan.

Dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apa pun, ia diboyong menuju Mapolresta Banggai.

Suasana haru pecah di ruang kepolisian saat gadis belia itu kembali berhadapan dengan orang tuanya.

Baca Juga:  Sembilan Tahun Dibayangi Cemoohan: Jalan Panjang 20 KK Warga Tanjung Bunga Luwuk Utara Menjemput Asa dan Kepastian Tanah

Tangis dan dekapan hangat menghapus ketegangan puluhan jam yang mencekam, mengakhiri pelarian singkat yang menguji ketahanan sebuah keluarga.

Peristiwa ini menjadi pengingat hangat bagi setiap insan yang berjuluk orang tua maupun anak. AKP Saiman pun menyisipkan pesan mendalam di balik insiden ini.

“Hendaknya orang tua dan anak saling menjaga keharmonisan keluarga dengan mengutamakan kasih sayang serta komunikasi yang intensif. Berbicaralah dengan kata-kata yang baik, tidak saling menyakiti, dan utamakan kasih.” *