Dapur Mom's Arsy
Dapur Mom's Arsy
Luwuk Times, Banggai – Puluhan tahun berlalu sejak Indonesia merdeka dan Kabupaten Banggai berdiri, masyarakat di wilayah “Kepala Burung” (Kecamatan Balantak, Balantak Utara, Balantak Selatan, hingga Bualemo) masih harus mengurut dada.
Akses jalan utama yang menjadi urat nadi kehidupan mereka hancur berulangkali: berdebu bak gurun saat kemarau, dan berubah menjadi kubangan lumpur yang membahayakan nyawa kala hujan turun.
Namun, bayang-bayang ketiadaan infrastruktur yang layak itu kini mulai sirna.
Melalui program flagship “Berani Lancar” di bawah kepemimpinan Gubernur Sulteng Dr. H. Anwar Hafid dan Wagub dr. Renny Lamadjido, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menghembuskan angin segar dengan mengucurkan anggaran fantastis lebih dari Rp67 miliar.
Suntikan dana APBD I Sulteng ini dialokasikan untuk membenahi total akses jalan yang menghubungkan ruas vital Poh – Mayayap – Bualemo serta Pangkalaseang – Balantak – Sobol.
Dua Raksasa Proyek Dikejar Target
Pengerjaan infrastruktur bernilai puluhan miliar ini ditangani langsung oleh Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Sulteng menggunakan skema Multi Years Contract (MYC) 2026–2027:
Ruas Poh – Mayayap – Bualemo (11 Km): Dikerjakan oleh PT Multi Indah Pratama dengan nilai kontrak Rp33,6 miliar (ditandatangani 9 April 2026).
Ruas Pangkalaseang – Balantak – Sobol (12 Km): Dikerjakan oleh PT Ariescont dengan nilai kontrak Rp35,6 miliar (ditandatangani 25 Mei 2026).
Pantauan Luwuk Times di lapangan hingga akhir Agustus 2026 menunjukkan pengerjaan Lapis Pondasi Agregat (LPA) terus dikebut demi mengejar target pengaspalan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Ir. Rusly S. Bahay, menegaskan bahwa kedua kontraktor telah mengantongi uang muka sebesar 15 persen. Namun, aturan main skema MYC ini terbilang sangat ketat.
KontraktorRuas JalanPanjangNilai KontrakProgres Saat IniTarget Akhir 2026PT Multi Indah PratamaPoh – Mayayap – Bualemo11 KmRp33,6 Miliar10%Minimal 50%PT AriescontPangkalaseang – Balantak – Sobol12 KmRp35,6 Miliar4%Minimal 50%
Rusly optimistis bobot pekerjaan akan melonjak tajam begitu tahap pengaspalan dimulai. Kendati demikian, ia memberikan peringatan keras terkait performa kontraktor.
“Pembayaran hasil pengerjaan berikutnya baru dilakukan akhir Desember 2026 jika bobot mencapai di atas 50 persen. Jika di bawah itu, potensi putus kontrak dan tidak akan dibayar,” tegas Rusly.
Menjemput Kesejahteraan Ekonomi
Langkah berani pemprov ini disambut antusias oleh warga lokal. Rusman dan Fajri, pemuda asal Poh dan Siuna, tidak bisa menyembunyikan rasa lega mereka. Bagi mereka, jalan mulus bukan sekadar tentang kenyamanan berkendara, melainkan tentang masa depan ekonomi kawasan.
Konektivitas antar-kecamatan yang lancar akan mempercepat arus mobilitas hasil bumi dan barang, yang pada akhirnya mendongkrak tingkat kesejahteraan masyarakat di kawasan Kepala Burung Banggai. *
Reporter Setiyo Utomo










