Oleh: Supriadi Lawani
PERAMPOKAN disertai kekerasan yang terjadi di All Swalayan Maahas, Luwuk, pada 5 Desember 2025, mengguncang rasa aman masyarakat Banggai.
Di kota yang relatif tenang dan jarang mencatat kriminalitas ekstrem, kejadian brutal seperti ini bukan hanya perkara hukum.
Ia adalah sinyal sosial tanda bahwa ada sesuatu yang retak di bawah permukaan kehidupan sehari-hari kita.
Dalam kriminologi, salah satu teori yang paling relevan untuk membaca fenomena ini adalah Strain Theory, dikembangkan Robert Merton dan disempurnakan Robert Agnew melalui General Strain Theory.
Intinya sederhana; kejahatan sering lahir dari tekanan, frustrasi, dan rasa tersudut yang tak tersalurkan.
Terdapat tiga bentuk tekanan sosial (strain) yang dapat melahirkan tindakan kriminal brutal seperti perampokan disertai penganiayaan bahkan pembunuhan.
Pertama, kegagalan mencapai tujuan ekonomi
Banyak pelaku kriminal yang bukan sekadar “jahat”; mereka adalah individu yang terjebak dalam lingkaran tekanan finansial—utang menumpuk, kehilangan pekerjaan, kesempatan ekonomi yang sempit, atau standar sosial yang makin tinggi.
Dalam kondisi seperti itu, sebagian orang mengalami putus asa dan mulai melihat jalan pintas sebagai opsi. Bukan karena berani, tetapi karena merasa tidak punya pilihan lain.
Luwuk dan wilayah sekitarnya juga tidak imun dari tekanan ini: naiknya biaya hidup, kesempatan kerja yang tidak merata, dan tuntutan sosial ekonomi yang terus meningkat.
Kedua, kehilangan sesuatu yang bernilai
Tekanan tidak selalu soal uang. Masalah keluarga, konflik rumah tangga, kehilangan pasangan atau pekerjaan, pertengkaran yang berkepanjangan semuanya dapat menciptakan ruang emosional yang rapuh.
Individu dalam kondisi ini mudah mengalami emotional collapse. Dan ketika ruang batin itu tidak menemukan saluran sehat untuk meredakan tekanan, sebagian orang bisa terdorong mengambil tindakan ekstrem hanya untuk merasa kembali “berkuasa” atas hidupnya.
Dalam banyak kasus kriminal berat, pelaku pernah mengalami kehilangan yang tidak tertangani secara emosional.
Ketiga, paparan kondisi negatif secara terus-menerus
Lingkungan keras, stres harian berkepanjangan, konflik sosial, atau dunia pergaulan yang buruk dapat menciptakan apa yang disebut Agnew sebagai chronic strain — tekanan kronis yang menumpuk sampai titik ledakan.
Individu yang hidup dalam kondisi ini cenderung lebih mudah marah, lebih impulsif, dan lebih cepat mengambil keputusan berbahaya.
Ketika strain ini dipadukan dengan kesempatan kriminal, lahirlah tindakan kekerasan.
Perampokan di Luwuk: refleksi yang lebih dalam. Jika menggunakan lensa Strain Theory, kita bisa melihat bahwa pelaku kejahatan seperti ini kemungkinan berada pada pertemuan tiga tekanan:
tekanan ekonomi, kelelahan emosional, dan paparan kondisi negatif yang membuat kontrol diri melemah.
Kejahatan itu bukan sekadar tindakan rasional untuk mendapatkan uang; ia adalah ledakan sosial kecil yang lahir dari akumulasi masalah yang tidak pernah ditangani.
Pertanyaannya: mengapa tekanan semacam ini tidak terlihat oleh komunitas?
Mengapa kita tidak mampu membaca tanda-tanda sebelum semuanya terlambat?
Melihat Akar, Bukan Hanya Gejala
Reaksi tercepat setelah kejadian tentu menuntut penangkapan pelaku. Itu penting.
Namun jika sekadar berhenti pada “penjahat harus dihukum”, kita mengabaikan akar persoalan yang melahirkan kejahatan serupa.
Opini publik perlu diarahkan pada hal yang jauh lebih mendasar:
Apakah sistem sosial-ekonomi kita memberi ruang hidup layak bagi semua warga?
Apakah mekanisme dukungan sosial berjalan?
Apakah ada sistem peringatan dini bagi individu yang mulai kehilangan kendali hidup?
Apakah komunitas cukup kuat untuk mengenali tetangganya yang mulai terdesak hidup?
Kejahatan brutal bukan hanya kegagalan individu; itu juga sering kali adalah kegagalan sosial.
Menjaga Banggai Tetap Aman: Tugas Kolektif
Banggai adalah wilayah dengan jaringan sosial yang kuat. Namun modernisasi dan tekanan ekonomi yang meningkat membuat kita mungkin tidak lagi saling memperhatikan seintim dulu.
Strain Theory mengingatkan bahwa semakin tinggi tekanan sosial, semakin tinggi potensi lahirnya kriminalitas ekstrem.
Mencegah kejahatan bukan hanya soal memperbanyak polisi atau memasang CCTV, tetapi juga memastikan masyarakat tidak tenggelam dalam tekanan tanpa pegangan.
Karena pada prinsipnya, rasa aman bukan hanya dibuat oleh aparat kemanan.
Ia lahir dari masyarakat yang sehat secara sosial,yang tidak membiarkan anggotanya tenggelam dalam keputusasaan sampai akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan.
Dan pada akhirnya dalam konteks Banggai pimpinan daerah paling pertama dan utama merencanakan, memahami dan memastikan sehat sosial itu tercapai dan terjaga. *
Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat





