Oleh: Supriadi Lawani MENURUT kawan saya yang pernah ke Belanda, yang pasti bukan Aip Saifullah yang sekarang sudah jadi warga Belanda tapi teman yang lain yang namanya te mau dibilang. SELENGKAPNYA
Literasi Dan Empati (Belajar dari Totto-chan dan Pak Kobayashi)
Oleh: Supriadi Lawani BEBERAPA Minggu lalu, saat menerima rapor anak saya, wali kelasnya menyampaikan satu kalimat yang terdengar sederhana tapi berat: “Secara umum, anak-anak sekarang agak kurang literasi dan penalaran.” SELENGKAPNYA
Mereka yang Takut pada Komedi
Oleh: Supriadi Lawani PANJI menggelar stand up comedy di panggung besar. Ditayangkan di Netflix. Viral. Itu saja sebenarnya sudah cukup menjelaskan bahwa yang terjadi adalah kerja seni—komedi, satire, kritik sosial. SELENGKAPNYA
Membayangkan Berani Cerdas Jika Gubernur Dipilih DPRD
Oleh: Supriadi Lawani TADI pagi saya melihat sebuah flyer di media sosial. Flyer itu menggambarkan adanya beberapa partai di parlemen yang mendukung wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD. Salah satu SELENGKAPNYA
Pemilihan Kepala Daerah dan Ilusi Demokrasi Prosedural
Oleh: Supriadi Lawani BELAKANGAN ini kembali menguat wacana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah—baik gubernur, bupati, maupun wali kota. Ada usulan agar kepala daerah dipilih oleh DPRD, dengan alasan sama-sama demokratis SELENGKAPNYA
Anak Muda Yang Dilahirkan Zaman
Oleh: Supriadi Lawani MINGGU lalu saya mendampingi seorang anak muda di Polres Banggai. Ia diperiksa atas laporan sebuah perusahaan nikel yang beroperasi di kampungnya. Usianya sebaya dengan anak saya, meski SELENGKAPNYA
Menghina Institusi Negara: Delik yang Kehilangan Objek Konstitusional
Oleh: Supriadi Lawani KUHP baru (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023) hari ini ( 2/1/2026) mulai berlaku. Ada pasal dalam KUHP baru ini kembali memperkenalkan konsep yang sejak lama dipersoalkan secara SELENGKAPNYA
Demokrasi bagi Siapa?
Oleh: Supriadi Lawani AKHIR-akhir ini ada isu tentang pilkada yang dipilih oleh DPRD sehingga memicu perdebatan tentang demokrasi. Bagi saya banyak perdebatannya hanya bersifat teknis elektoral dan tidak menyentuh inti SELENGKAPNYA
Cinta Katanya Bukan Soal Hati, Tapi Soal Harga
Oleh: Supriadi Lawani “CINTA itu soal hati, bukan soal harga.” Kalimat ini biasanya diucapkan oleh dua tipe manusia: pertama, anak muda tak berpunya yang rajin baca puisi Sapardi sambil ngopi SELENGKAPNYA
Dugaan Pemerasan Jaksa dan Ketakutan Pejabat: Simbiosis Korupsi yang Terlupakan
Oleh: Supriadi Lawani TERBONGKARNYA kasus dugaan pemerasan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan seharusnya tidak dibaca semata sebagai skandal hukum individual. Ia adalah potret relasi kuasa yang SELENGKAPNYA
Ideologi, Sudah Tapi Belum: Negara Gagap Dihadapan Beras 30 Ton
Oleh: Supriadi Lawani BANTUAN beras 30 ton dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk korban bencana sempat “dikembalikan”, lalu diklarifikasi “bukan dikembalikan”, dan akhirnya disalurkan melalui Muhammadiyah. Dalam hitungan hari, negara SELENGKAPNYA
Mencari Jodoh Sempurna di Dunia yang Tidak Pernah Sempurna
Oleh: Supriadi Lawani ANAK muda laki-laki sering berandai-andai: “Ah, seandainya aku dapat pasangan yang cantik, baik, terpelajar, kaya, dan yang paling penting mencintaiku apa adanya.” Anak muda perempuan juga tidak SELENGKAPNYA
Pidana di Situasi Bencana
Oleh: Supriadi Lawani PENERAPAN Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru seharusnya tidak dipahami semata sebagai pergantian pasal, istilah, atau ancaman pidana. Ia mestinya dibaca sebagai momentum untuk meninjau kembali SELENGKAPNYA
Berdoalah Agar Torang Pe Tai Jadi Fosil
Oleh: Supriadi Lawani ARKELOG pernah menemukan tai bangsa Viking yang membatu. Iyo, tai. Bukan pedang, bukan kapal naga, bukan helm bertanduk yang itu pun ternyata mitos. Tai. Dan dari situ, SELENGKAPNYA
Integritas Moral Mualem yang Dibentuk oleh Jalan Panjang Perjuangan
Oleh: Supriadi Lawani KETIKA membuka media sosial Facebook saya melihat ringkasan video wawancara Muzakir Manaf atau Mualem gubernur Aceh dengan Najwa Shihab. Saat diwawancarai oleh Najwa, Mualem sempat menangis, saya SELENGKAPNYA
Mengapa Pemimpin Selevel Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka Tak Lahir Lagi?
Oleh: Supriadi Lawani DI TENGAH kekecewaan publik terhadap kualitas elite politik hari ini, pertanyaan yang kerap muncul adalah: mengapa Indonesia tidak lagi melahirkan pemimpin dengan kedudukan intelektual dan moral seperti SELENGKAPNYA
Ketika Darah Tumpah di Luwuk, Membaca Akar Kekerasan Lewat Strain Theory
Oleh: Supriadi Lawani PERAMPOKAN disertai kekerasan yang terjadi di All Swalayan Maahas, Luwuk, pada 5 Desember 2025, mengguncang rasa aman masyarakat Banggai. Di kota yang relatif tenang dan jarang mencatat SELENGKAPNYA
Kasat Usman yang Saya Kenal
Oleh: Supriadi Lawani TULISAN ini tidak memiliki kepentingan apa pun. Tidak untuk pencitraan, tidak untuk politik, tidak pula untuk popularitas. Ini hanya catatan kecil tentang seorang sahabat yang—di tengah dunia SELENGKAPNYA
Bencana Sumatera: Dialektika Alam, Keretakan Metabolik, dan Kapitalisme yang Mengabaikan Batas Bumi
Oleh: Supriadi Lawani SETIAP kali bencana melanda Sumatera—banjir bandang Aceh, longsor Sumbar, kebakaran gambut Riau dan lainnya maka aparatus negara bergerak cepat mengulang mantra lamanya: bencana alam. Frasa itu bekerja SELENGKAPNYA
Mengembalikan Ruh Perencanaan Pembelajaran
Oleh: Supriadi Lawani TULISAN sederhana ini adalah apa yang saya tangkap dari gagasan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banggai, Syafrudin Hinelo, S.STP., M.Si. Ketika bertemu singkat beberapa hari lalu SELENGKAPNYA
Ketidakmampuan Beli Pangan Sehat: Alarm untuk Banggai dan Indonesia
Oleh: Supriadi Lawani LAPORAN terbaru FAO yang menyebut 43,5 persen penduduk Indonesia tidak mampu membeli makanan sehat pada 2024 seharusnya dibaca sebagai peringatan serius. Angka itu mencerminkan kesenjangan besar antara SELENGKAPNYA
Catatan Ringan di Hari Burung Maleo
Oleh: Supriadi Lawani TANGGAL 21 November kemarin sebenarnya adalah Hari Burung Maleo. Iya, saya tahu, tulisan ini agak telat. Tapi kalau untuk merayakan makhluk setia yang sedang terancam punah, masa SELENGKAPNYA
Adat, Hukum Adat, dan Masyarakat Hukum Adat: Membaca Ulang Klaim Identitas Babasal
Oleh: Supriadi Lawani SAYA menulis ini tanpa maksud tertentu. Sebelumnya saya ingin jelaskan bahwa dalam tubuh saya mengalir darah suku Balantak. Karena itu, tulisan ini bukan lahir dari jarak, tetapi SELENGKAPNYA
Demokrasi Tanpa Pengetahuan Diri
Oleh: Supriadi Lawani Fondasi yang Jarang Dibahas SETIAP musim pemilu, kita kembali pada keyakinan dasar demokrasi: satu orang satu suara. Keyakinan itu tampak sederhana, tetapi berdiri di atas asumsi yang SELENGKAPNYA
- 1
- 2
- Berikutnya












