LUWUK TIMES — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Sabtu (21/2/2026). Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Asri Abasa, membuka ceramahnya dengan sebuah kisah yang menggugah hati jamaah.
Ia menuturkan cerita tentang seorang lelaki berusia 76 tahun yang mengalami kecelakaan dan tak sadarkan diri di Arab.
Setelah mendapat perawatan intensif dengan bantuan oksigen selama 24 jam, pria itu siuman. Dokter kemudian menyampaikan biaya perawatan sebesar 600 riyal, setara sekitar Rp2,5 juta.
“Lelaki itu menangis,” ujar Asri di hadapan jamaah.
“Dokter mengira ia keberatan membayar. Namun sang orang tua itu berkata, ‘Saya mampu membayar nota ini. Saya menangis karena selama 76 tahun, saya tak pernah membayar satu tarikan nafas pun”.
Cerita itu membuat jamaah terdiam. Asri melanjutkan dengan ilustrasi sederhana.
Jika 24 jam kehidupan dihargai Rp2,5 juta, maka sebulan bernilai Rp75 juta, setahun Rp900 juta, dan puluhan tahun mencapai angka fantastis.
“Namun Allah memberikannya gratis,” tegasnya.
Dalam ceramahnya, Asri mengajak jamaah merenungi nikmat kesehatan, kekuatan, dan kesempatan hidup.
Ia mengingatkan bahwa tak sedikit orang yang kesehatannya dicabut. Kekuatannya berkurang hingga harus berjalan dengan tongkat atau kursi roda. Bahkan ada yang tak lagi merasakan bersatunya ruh dan jasad.
“Asas hidup ini adalah syukur,” katanya.
Ia pun mengutip pesan Alquran bahwa siapa yang mensyukuri nikmat Allah akan bertambah. Sementara mereka yang kufur nikmat akan menghadapi konsekuensi berat.
Menutup tausiah, Asri menyampaikan keistimewaan bulan suci Ramadhan.
Ia menyinggung riwayat bahwa para nabi terdahulu memohon agar kemuliaan Ramadhan diberikan kepada umat mereka.
“Namun Allah menganugerahkannya kepada umat Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Ceramah malam keempat Ramadhan itu tak sekadar menyampaikan pesan.
Tetapi juga meninggalkan jejak perenungan mendalam di hati jamaah yakni tentang nafas, tentang hidup, dan tentang syukur yang sering terlupa. *
Reporter Sofyan Labolo
