Dapur Mom's Arsy
Dapur Mom's Arsy
Dapur Mom's Arsy
LUWUK TIMES – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Agung An-Nuur Luwuk pada Selasa, 24 Februari 2026, saat Iswan Kurnia Hasan menyampaikan kajian Alquran yang menggugah hati.
Dalam tausiyahnya bada shalat subuh, ia menekankan keutamaan bulan Ramadan dan secara khusus mengajak jamaah untuk memburu malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar.
Mengawali kajiannya, Iswan menyampaikan kabar gembira dari hadis Nabi Muhammad SAW bahwa mereka yang menjaga shalat Isya dan Subuh berjamaah akan mendapatkan cahaya pada hari kiamat.
“Di saat manusia berjalan dalam gelap demi gelap pada hari itu, orang-orang yang menjaga shalat Subuh akan memperoleh cahaya yang sempurna,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak jamaah merenungi keistimewaan Ramadan.
Dalam Alquran, Allah SWT secara spesifik menyebut bulan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Alquran.
Sebelas bulan lainnya tidak disebutkan secara khusus, menunjukkan betapa agungnya Ramadan di sisi Allah.
Namun, bukan hanya bulan yang dimuliakan. Ada satu malam yang disebut langsung namanya dalam Alquran, yaitu Lailatul Qadar.
Malam inilah saat Alquran pertama kali diturunkan. Malam yang keutamaannya melebihi seribu bulan setara dengan 83 tahun, 4 bulan, dan 10 hari.
“Bayangkan, umur biologis kita belum tentu mencapai usia ibadah seribu bulan tanpa henti. Tapi Allah berikan kesempatan itu hanya dalam satu malam,” jelas Iswan.
Ia mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa barang siapa melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Inilah sebabnya Lailatul Qadar menjadi malam yang begitu dinanti.
Bahkan dalam hadis lain disebutkan, siapa yang terhalang dari kebaikan Lailatul Qadar, seakan-akan ia telah terhalang dari kebaikan selama setahun penuh.
Iswan juga menjelaskan lima makna Lailatul Qadar menurut para ulama:
Pertama, malam yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Pada malam itu para malaikat turun ke bumi, termasuk Malaikat Jibril, meski bukan untuk membawa wahyu.
Para malaikat senang menghadiri majelis zikir dan ilmu, menaungi manusia dengan sayap-sayap mereka.
Kedua, malam penetapan takdir tahunan manusia. Mengutip pendapat Ibnu Abbas, pada malam itu Allah menuliskan kembali takdir manusia untuk satu tahun ke depan.
Ketiga, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Satu malam ibadah setara dengan ibadah tanpa henti selama lebih dari delapan dekade.
Keempat, malam kemuliaan karena diturunkannya Alquran. Inilah momentum “reuni” Nuzulul Quran yang seharusnya dimaksimalkan dengan ibadah terbaik.
Kelima, malam ketika Allah mengatur kembali berbagai urusan dunia, sehingga menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak doa dan amal saleh.
Lalu kapan Lailatul Qadar terjadi?
Berdasarkan hadis riwayat Sayyidah Aisyah, Rasulullah SAW bersabda agar umat Islam mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil.
“Karena itu, mari fokus beribadah di sepuluh malam terakhir. Hidupkan malam dengan shalat, zikir, tilawah, dan infaq di masjid. Jangan sampai kita melewatkan malam yang lebih baik dari seribu bulan,” pesan Iswan penuh harap.
Kajian ini menjadi pengingat bahwa di tengah gelapnya malam, Allah telah menyiapkan cahaya yang luar biasa bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Lailatul Qadar bukan sekadar malam istimewa, melainkan peluang emas untuk meraih ampunan dan cahaya abadi di hari kiamat. *
Reporter Sofyan Labolo










