Juara Umum Terancam? Cabor Panjat Tebing Banggai Hadapi Misi Mustahil di Porprov Sulteng 2026

oleh -149 Dilihat
oleh
Ilustrasi panjat tebing

LUWUK TIMES, Banggai – Sinyal bahaya berbunyi kencang dari cabang olahraga (cabor) panjat tebing Kabupaten Banggai menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulteng 2026 di Kabupaten Morowali. Status juara umum yang disandang Banggai kini berada di ujung tanduk, dengan ancaman kehilangan sedikitnya 4 medali emas potensial.

Sebagai kilas balik, pada Porprov Sulteng 2022 di kandang sendiri, tim panjat tebing Banggai tampil perkasa dan sukses menyabet gelar Juara Umum setelah memborong 7 medali emas.

Dari total emas tersebut, 4 di antaranya dipersembahkan oleh sang megabintang panjat tebing lokal, Fernando Kekung. Ia mendominasi kategori speed, lead, boulder, dan combine.

Namun, menatap Porprov Morowali tahun ini, hilangnya sumbangsih emas dari figur sentral seperti Fernando menjadi pukulan telak yang belum menemui solusi pasti.

Regenerasi dan Minim Jam Terbang

Sumber internal menyebutkan, hitung-hitungan di atas kertas berdasarkan peta kekuatan empat tahun lalu menunjukkan penurunan drastis.

Meski ada beberapa nama baru yang dipersiapkan untuk memperkuat kontingen Banggai, status dan kesiapan para atlet baru ini dinilai masih “gaib” alias belum teruji di level kompetisi tertinggi.

Pelatih panjat tebing Kabupaten Banggai, Galank, tidak menampik situasi sulit ini. Saat dikonfirmasi Luwuk Times, Kamis (02/07/2026), ia bersikap realistis dan menyebut peluang mempertahankan gelar juara umum kini berada di posisi 50:50.

Menurut Galank, kendala terbesar yang dihadapi anak asuhnya adalah minimnya partisipasi dalam kejuaraan atau try-out selama masa persiapan.

“Kami minim mengikuti kejuaraan. Sehingga tim pelatih tidak memiliki patokan pasti mengenai grafik prestasi dan perkembangan performa atlet saat ini,” ungkap Galank ragu.

Beban Berat di Pundak Naura

Kabupaten Banggai sebenarnya memiliki talenta muda berbakat. Salah satunya adalah atlet putri potensial, Naura Alia Nurfitri. Namun, Galank menegaskan bahwa sangat tidak adil jika beban berat untuk mendulang banyak medali dari berbagai kategori langsung didelegasikan ke pundak sang atlet muda.

Tanpa adanya peta kekuatan yang jelas dan hilangnya pilar-pilar peraih emas masa lalu, dinding panjat di Morowali dipastikan akan menjadi medan pertempuran yang sangat berat bagi kontingen Banggai.

Mampukah sang juara bertahan menciptakan keajaiban, atau justru harus rela takhtanya direbut kabupaten lain? Kita tunggu pembuktiannya. *

Sofyan Labolo